Areen & Noi. Powered by Blogger.
RSS

Persalinan Normal vs SC: if become choices

Bulan ini betul-betul istimewa bagi saya, karena dalam waktu berdekatan telah lahir bayi-bayi mungil nan cantik dari keluarga dan teman-teman saya. Wah, senang sekali... ❤ (。◕‿◕。)



Bayi dan anak-anak adalah makhluk yang luar biasa. Mereka bukanlah miniatur manusia dewasa, mereka berada dalam fase yang betul-betul istimewa dan berbeda. Anak-anak telah memberi banyak inspirasi dan mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan saya, bahkan membawa saya sampai di sini. :-)

Saya jadi ingat saat melahirkan anak kedua. Saya dihadapkan pada pilihan Sectio Caesaria (SC) karena proses persalinan kala 1 tidak mengalami kemajuan.  Duh, sedihnya.. :-(

Secara umum, memang tampaknya persalinan dengan cara SC lebih mudah karena kecemasan ibu mungkin lebih kecil dan nyeri akibat kontraksi His yang yang luar biasa menyakitkan juga bisa dihindari. Akan tetapi yang ada di benak saya saat itu, saya ingin melahirkan secara normal.

Karena CTG (cardiotocography) bayi masih baik, saat itu saya mohon dokter kandungan saya untuk memberi  kesempatan bisa melahirkan secara normal. Saya ingin waktu beberapa jam untuk kemudian evaluasi kembali. SC bukan pilihan utama saya, akan tetapi jika memang terpaksa, saya bersedia melahirkan secara SC. Dan, alhamdulillah Tuhan mendengar doa saya. Sesuai harapan, akhirnya pembukaan lengkap dan saya siap melahirkan secara normal. :-)

SC memang biasanya dilakukan atas indikasi medis. SC emergency tentu menjadi pilihan terbaik yang harus diambil untuk alasan keselamatan ibu dan atau bayi. Namun tidak jarang SC dilakukan simply karena ibu menolak persalinan pervaginal atau karena alasan lain selain alasan medis.

Kejadian SC semakin meningkat dari hari ke hari. Di Brazil, lebih dari separuh kelahiran melalui proses SC, dan dengan tercovernya asuransi bisa meningkat hingga 82%! Di Amerika, jumlah SC melebihi sepertiga dari seluruh persalinan. Dan pada tahun 2008, 46% persalinan di Cina juga dengan SC. Di UK mencapai angka 25% - dan karena NHS (National Health Service) menganggap SC sebagai hak seorang ibu, maka angka kejadiannya semakin meningkat lagi. Di Jerman, antara tahun 1991 - 2010, angka SC meningkat dari 15.3% menjadi  31.9 berdasarkan data Federal Statistical Office. Data SKDI 2007 menunjukkan bahwa angka di Indonesia juga mengalami peningkatan. Di rumah sakit pemerintah sekitar 20-25% sedangkan rumah sakit swasta sekitar 30-80% dari total persalinan. Padahal World Health Organization (WHO) dalam WHO guideline telah menganjurkan operasi SC hanya dalam rentang 10–15 persen dari jumlah total kelahiran. Fenomena ini mendorong orang menyebutnya sebagai medicalization of birth. 

Jika SC bisa menjadi prosedur pilihan, lantas sebetulnya apa keuntungan dan kerugian masing-masing metode persalinan ini? Berikut beberapa keuntungan dan kerugian prosedur persalinan normal (pervaginal) dan SC:

Keuntungan:

Persalinan Pervaginal


Sectio Caesaria
  • Merupakan cara persalinan alami tanpa banyak intervensi medis. Proses persalinan dimulai dari dilatasi servix (leher rahim) hingga kelahiran bayi.
  • Wanita secara aktif berperan dalam proses persalinan dengan mendorong bayi melalui jalan lahir. Hal ini dapat menimbulkan rasa ‘empowerment and accomplishment’ usai persalinan.
  • Lama perawatan yang lebih pendek, sekitar 24-48 jam setelah persalinan.
  • Masa pemulihan yang lebih cepat dan nyeri pasca persalinan yang lebih kecil.
  • Risiko masalah pernapasan pada bayi yang lebih kecil, seperti transient tachypnea of the neonate  atau TTN (cairan dalam paru bayi). TTN bukan kondisi serius dan dapat membaik dalam 2-3 hari perawatan.
  • Kecenderungan TTN berkurang karena tekanan oleh jalan lahir dapat membantu mengurangi kelebihan cairan pada paru bayi. Selain itu persalinan normal merupakan pencetus pengeluaran hormon epinefrin yang membersihkan cairan pada paru. 
  • Risiko lebih kecil untuk terjadinya persistent pulmonary hypertension - kondisi dimana organ bayi kekurangan oksigen akibat aliran darah paru tidak seperti seharusnya.
  • Di masa mendatang, bayi memiliki risiko lebih kecil menderita asma, alergi makanan dan intoleransi laktosa. Ini dihubungkan dengan paparan bakteri menguntungkan pada jalan lahir saat proses persalinan.
  • Kemungkinan proses yang lebih cepat pada persalinan berikutnya.
  • Ibu dapat menyusui bayi lebih cepat dan lebih efektif.
  • Proses bonding ibu dan bayi lebih mudah karena kontak yang lebih cepat pula.
  • Risiko yang lebih rendah terhadap perdarahan maternal, blood clotting dan kerusakan organ dalam.
  • Lebih nyaman untuk ibu karena tanggal persalinan telah direncanakan, stress dan kecemasan ibu lebih kecil. 
  • Dapat menghindari kehamilan postterm karena SC biasanya direncanakan pada usia kehamilan 39-40 mingggu
  • Dibandingkan dengan pervaginal, risiko perdarahan postpartum akibat atonia uteri (kontraksi rahim tidak normal setelah persalinan) lebih rendah.
  • Dibandingkan dengan SC emergency, risiko komplikasi lebih rendah, misalnya injury terhadap organ dalam, laserasi bayi, dan masalah terkait anestesi.
  •  Mengurangi risiko STD (Sexual Transmitted Disease) atau infeksi lain (herpes, HIV, hepatitis dan HPV)
  • Risiko trauma persalinan seperti pembengkakan atau memar lebih kecil.
  • Risiko lebih rendah terhadap injury dasar pelvis, inkontinensia urin (ketidakmampuan untuk menahan kencing). Namun kondisi ini  tidak ada perbedaan bermakna setelah 2-5 tahun pasca persalinan.






















       

       Kerugian:

Persalinan Pervaginal


Sectio Caesaria


  • Ketakutan persalinan dapat menyebabkan kecemasan  pada beberapa wanita.
  • Meskipun jarang, komplikasi perdarahan maternal dapat terjadi.
  • Risiko terjadinya robekan perineum,  bervariasi dari laserasi  ringan hingga derajat 3-4.
  • Risiko bayi mengalami deprivasi oksigen jika persalinan menemui masalah.
  • Kemungkinan trauma fisik pada bayi, seperti bengkak dan memar. Risiko ini meningkat pada assisted vaginal delivery (persalinan dengan bantuan  forcep  atau vacuum extraction).
  • Dapat meningkatkan kecenderungan prolaps organ pelvis.
  • Pada kasus yang jarang, dapat terjadi inversi uteri. Ini merupakan kondisi yang serius dan jika tidak ditangani segera dapat menyebabkan kematian pada ibu.
  • Episiotomi dapat menyebabkan rasa nyeri saat intercourse dalam tiga bulan pertama setelah persalinan.
  • Risiko inkontinesia urin lebih besar. Risiko ini meningkat pada  assisted vaginal delivery, persalinan lama dan bayi besar.









  • SC merupakan prosedur pembedahan abdomen mayor yang memiliki risiko bedah dan risiko enestesia.  Efek samping anestesia meliputi sakit kepala, mual, muntah. Anestesia juga dapat mempengaruhi bayi menjadi kurang aktif saat lahir.
  • Lama perawatan di rumah sakit dan periode pemulihan yang lebih panjang. 
  • Risiko  pada ibu yang lebih tinggi terhadap:
    - serangan jantung, hematom pada luka  insisi SC, infeksi endometritis puerperal  (peradangan jaringan di sekeliling rahim akibat bakteri, jendalan darah pada vena, perdarahan  yang memerlukan histerektomi (pengangkatan rahim, terbukanya luka, 
    nyeri pada daerah bekas luka, infeksi pasca persalinan 
  • Risiko cedera  usus atau kandung kencing saat operasi
  • Risiko kehilangan darah lebih besar,  sekitar 2/3 wanita memerlukan transfusi darah.
  • Fungsi usus yang menurun setelah proses SC.
  • Masalah pernapasan pada bayi lebih sering terjadi, seperti TTN dan respiratory distress syndrome.
  • Risiko placenta previa  dan placenta accreta yang lebih besar pada kehamilan selanjutnya .
  • Risiko lebih tinggi terjadinya ruptur uteri (robeknya dinding rahim pada tempat insisi SC).
  • Proses menyusui lebih sulit akibat ibu merasa tidak nyaman setelah operasi dan tidak segera dapat kontak dengan bayinya.
  • Risiko lebih besar terjadinya persistent pulmonary hypertension pada bayi. 
  • Risiko skor Apgar yang lebih rendah (hasil pemeriksaan untuk mengevaluasi kondisi fisik bayi segera setelah lahir).






Selain pros dan cons di atas, saya menelusuri beberapa riset atau penelitian yang berkaitan dengan metode-metode persalinan dan dampaknya, terutama pada bayi dan anak. Berikut ini beberapa di antaranya:

- Sebuah penelitian biomolekuler melaporkan bahwa persalinan pervaginal mendorong terbentuknya protein yang disebut 'mitochondrial uncoupling protein 2 atau UCP2. Menurut penelitian ini, protein UCP2 memiliki peran penting dalam perkembangan sirkuit otak dan perilaku anak bahkan hingga dewasa. UCP2 terlibat dalam metabolisme lemak, yang  merupakan komponen kunci untuk terbentuknya air susu ibu yang selanjutnya bersifat protektif terhadap terjadinya kejang demam pada bayi.

- Penelitian di Iran pada 5000 subjek penelitian anak usia 6-7 tahun melaporkan bahwa hasil penelitian tersebut tidak mendukung adanya hubungan antara SC dan perkembangan kognitif yang lebih baik pada anak. Meskipun sebelumnya, pada kelompok anak yang dilahirkan secara SC memiliki skor tes IQ yang secara signfikan lebih tinggi, akan tetapi setelah di-adjust dengan variabel pendidikan orang tua, usia ibu dan paritas, ternyata tidak ada perbedaan bermakna.

- Penelitian retrospektif kohort yang dilakukan di Cina pada tahun 2011 melaporkan bahwa SC terencana berhubungan dengan meningkatnya risiko IQ kurang dari 110. Penelitian ini dilakukan pada 246 anak usia 5 tahun.

-  Bayi yang dilahirkan melalui SC memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit alergi dan asma. Menurut para ahli hal ini disebabkan karena paparan bakteri di jalan lahir ibu berperan dalam stimulasi sistem imun tubuh.
 
- Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 5320 anak usia 5 tahun  melaporkan bahwa anak yang terekspos anestesia selama proses SC memiliki risiko terjadinya learning disability yang lebih besar dibandingkan dengan anak yang lahir melalui persalinan normal.

- Laporan penelitian terbaru dari UK mengungkapkan bahwa SC berkaitan dengan risiko obesitas pada anak. Peneliti menganalisis data bayi yang lahir di Avon antara tahun1991-1992 dan diikuti hingga usia 15 tahun. Angka overweight dan obesitas sebesar 31% pada usia 3 tahun dan 17% pada usia 7 dan 15 tahun.


"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al Ahqaf:15)



 Sources:
 Ucp2 Induced by Natural Birth Regulates Neuronal Differentiation of the Hippocampus and Related Adult Behavior Julia Simon-Areces, Marcelo O. Dietrich, Gretchen Hermes, Luis Miguel Garcia-Segura, Maria-Angeles Arevalo, Tamas L. Horvath; PLoS ONE 7(8): e42911. doi:10.1371/journal.pone.0042911

Anesthesia for cesarean delivery and learning disabilities in a population-based birth cohort. Sprung J, Flick RP, Wilder RT, Katusic SK, Pike TL, Dingli M, Gleich SJ, Schroeder DR, Barbaresi WJ, Hanson AC, Warner DO. Anesthesiology. 2009 Aug;111(2):302-10. doi: 10.1097/ALN.0b013e3181adf481.


Long‐term effects of delivery mode on children's intelligence development: A pilot study: 11AP1‐6. Wang, D. X.; Yan, T.; Qu, Y.; Chen, Q.; Zhu, S. N. European Journal of Anaesthesiology: June 2011 - Volume 28 - Issue - p 157

The intelligence quotient of school aged children delivered by cesarean section and vaginal delivery. Khadem N, Khadivzadeh T. Iran J Nurs Midwifery Res. 2010 Summer;15(3):135-40.

Thanvagnanam S, Fleming J, Bromley A, et al (2008). A meta-analysis of the association between caesarean section and childhood asthma. Clinical & Experimental Allergy 38(4): 629-633.

van Nimwegen F, Penders J, Stobberingh E, et al (2011). Mode and place of delivery, gastrointestinal microbiota, and their influence on asthma and atopy. Journal of Allergy and Clinical Immunology 128(5):948-955.e3


Flemming K, Woolcott CG, Allen AC, Veugelers PJ, Kuhle S.
The association between caesarean section and childhood obesity revisited: a cohort study. Arch Dis Child. 2013 May 16.

http://consensus.nih.gov/2010/images/vbac/vbac_statement.pdf

http://www.freewebs.com/icanofrichmond/cesareanbookletsummary.pdf

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Skin Prick Test bukanlah Gold Standart untuk Alergi

Saya adalah penderita alergi (dermatitis), suami saya bersaudara juga penderita alergi (konjungtivitis, rhinitis), dan anak saya pun demikian (asma, alergi obat). Ya, alergi memang dihubungkan dengan predisposisi genetik, dapat diturunkan dan kami adalah keluarga penderita alergi, hehee..


Reaksi alergi bisa dicetuskan oleh alergen yang bersumber dari makanan, obat, gigitan serangga, menghirup alergen dari udara maupun kontak kulit. Penanganan alergi dengan menghindari pencetus tentu lebih baik dibandingkan mengkonsumsi obat-obat antialergi. Namun pada prakteknya cukup sulit menemukan penyebab alergi. Biasanya setelah mengalami alergi, orang akan menghubungkannya dengan makanan tertentu dan kemudian melakukan pantang makanan yang dicurigai sebagai pencetus alergi (food avoidance). Permasalahannya, pantang makanan yang tidak tepat bisa berbahaya. Pada anak dapat menyebabkan kondisi kurang gizi atau gagal tumbuh.

Bicara mengenai prosedur diagnosis alergi, Skin Prick Test (SPT) telah sangat populer dan biasanya akan direkomendasikan pada kecurigaan alergi. SPT telah dikenal sejak lebih dari satu abad yang lalu dan masih digunakan hingga saat ini sebagai alat diagnostik dengan akurasi cukup tinggi. SPT memiliki keuntungan dibanding alat diagnostik alergi lain, karena selain sederhana, cepat dan juga ekonomis.

SPT merupakan tes in vivo yang dilakukan dengan menyuntikkan jarum khusus yang diberi alergen. Penyuntikan dilakukan di kulit lengan sisi dalam sehingga tidak menimbulkan luka. Sebelum melakukan tes pastikan anda tidak mengonsumsi obat antialergi selama 3-7 hari. Hasil dapat diketahui dalam waktu 15-20 menit.


doctorsgates.blogspot.de


Meskipun akurasi SPT sebagai alat diagnostik cukup baik, namun kita harus berhati-hati dalam interpretasi hasil SPT, karena bagaimana kita menginterpretasikannya akan berpengaruh terhadap penanganan, gaya hidup dan diet penderita alergi. SPT bukanlah gold standart (baku emas) untuk diagnosis alergi. Hasil SPT harus diinterpretasikan dalam konteks riwayat penyakit, dimana didapatkan gejala klinis alergi dan adanya paparan alergi. Hasil positif tidak menjamin bahwa alergen itulah pencetus reaksi alergi. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai SPT:

- SPT merupakan alat diagnostik yang baik untuk mengetahu apakah kita TIDAK ALERGI, bukan apakah kita ALERGI terhadap suatu alergen (negative predictive  value tinggi, positive predictive value rendah). Penelitian melaporkan untuk susu dan telur, 50% hasil false positive (positif palsu), dan <5% false negative (negatif palsu). Untuk kacang, 70% positif palsu dan 10% negatif palsu. 

- Hasil positif SPT dapat terjadi tanpa gejala klinis. Hasil positif mengindikasikan adanya IgE yang secara teknis positif, tetapi mungkin gejala tidak terjadi pada paparan terhadap alergen. Hal ini disebut 'false positive' atau 'silent sensitization'. Akan tetapi secara individual dapat diklasifikasikan sebagai atopik (suatu kecenderungan genetik untuk mengembangkan penyakit alergi).

- Ukuran reaksi indurasi SPT dapat berkorelasi dengan kecenderungan (likelihood) bahwa pasien secara klinis reaktif terhadap alergen, akan tetapi tidak berkorelasi dengan keparahan manifestasi alergi. Semakin besar ukuran indurasi, semakin besar pula kecenderungannya reaktif terhadap alergen pada tes challenge.

- Tes alergi positif dapat berarti alergi secara klinis, tetapi mungkin tidak relevan (pasien tersensitisasi dan secara klinis reaktif, tetapi tidak terekspos alergen, sehingga bukan merupakan penyebab gejalanya).

- SPT dapat positif pada pasien yang memiliki riwayat alergi sebelumnya dan sudah membaik.

- Hasil negatif dapat terjadi meskipun dengan adanya alergi yang diperantarai oleh IgE, disebabkan karena ekstrak alergen yang tidak adekuat.

- Skin prick test negatif pada anak tidak menyingkirkan kemungkinan terjadinya alergi di masa mendatang.

- False positive (positif palsu) dan false negative (negatif palsu) dapat terjadi karena alasan teknis atau karena human error.

- SPT tidak sesuai untuk diagnosis alergi yang tidak diperantarai oleh IgE.

- Hasil negatif dengan adanya riwayat alergi yang jelas harus dipikirkan mekanisme penyebab yang lain.

- Jika hasil equivocal atau tidak berkorelasi dengan riwayat alergi, tes challenge dengan alergen yang dicurigai mungkin diperlukan.


Apakah IgE dan reaksi alergi yang diperantarai oleh IgE?
Pada reaksi alergi, tubuh menghasilkan antibodi yang dikenal sebagai immunoglobulin E (IgE) yang akan bereaksi dengab alergen (zat penyebab alergi)  Reaksi ini mencetuskan sel mast yang terdapat di kulit, saluran napas, mata dan saluran cerna utuk mengeluarkan substansi seperti histamin dan leukotrin serta prostaglandin. Proses ini akan menimbulkan gejala alergi. Reaksi ini dapat berlangsung cepat, akan tetapi bisa terjadi setelah beberapa jam atau hari (reaksi tipe lambat).


Apakah Tes RAST?
Ini adalah tes kedua yang biasanya direkomendasikan selain SPT untuk mengetahui penyebab alergi.
RAST (Radioallergosorbent Test) adalah tes in vitro yang berguna untuk mengukur konsentrasi dari immunoglobulin E (IgE) makanan spesifik dalam darah pasien: dimana semakin tinggi konsentrasi IgE maka semakin tinggi juga kecenderungan untuk bereaksi terhadap protein spesifik dari makanan tertentu tersebut. Berbeda dengan skin prick test, metode RAST menguji allergen dengan mengambil sampel serum darah sebanyak 2 cc.

Mana yang Lebih Baik antara SPT dengan RAST?
Pada pasien yang menderita alergi kacang, 22% negatif pada pemeriksaan RAST, dan 0,5% negatif pada pemeriksaan SPT. Pada pasien yang dapat mentoleransi kacang, 40% positif pada pemeriksaan RAST, dan 46% positif pada pemeriksaan SPT.   Jadi menurut penelitian ini, untuk SPT negative predictive  value lebih rendah dan positive predictive value tinggi dibandingkan RAST). Mengkombinasikan keduanya, mungkin akan meningkatkan akurasinya.


Apakah Tes Challenge?
Tes Challenge merupakan prosedur untuk untuk mencari penyebab dan memastikan penyebab alergi. Prosedur ini dapat sebagai prosedur lanjutan terhadap SPT. Prosedur ini meliputi eliminasi makanan yang dicurigai sebagai penyebab alergi dan kemudian provokasi makanan untuk menemukan penyebab pasti alergi. Tes challenge merupakan prosedur spesialistik dan merupakan gold standart untuk alergi (sekitar 3% false negative dan 1% false positive).



Referensi:

Sporik R, et al. Specificity of allergen skin testing in predicting positive open food challenges to milk, egg and peanut in children. Clinical Exp Allergy 2000; 0:1540-6

Clark at, Ewan PW. Interpretation of tests for nut allergy in one thousand patients, in relation to allergy or tolerance. Clinical Exp Allergy 2003; 33 1041-45

Isolauri E., Turjanmaa K. Combined skin prick and patch testing enhances identification of food allergy in infants with atopic dermatitis. Journal of Allergy and Clinical Immunology 1996; 97 9–15



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Life is Progress

God, bener-bener susah memejamkan mata.. Soooooo many things are crossing in my mind. Persis kayak nyamuk terbang-terbang, nyebelin dan mengganggu sekali. :-( Ini nih pasti gara-gara liburan osterferien kemarin. Keterusan nyantai dan bermalas-malasan, akhirnya energi terakumulasi dan jadi insomnia gini, gara-gara kurang kerjaan.

Uugh.. semua orang sudah pada tidur. bingung mau ngapain. Ya udah deh, tadi salah satu yang bersliweran di kepala  saya gambar aja, sambil memancing kantuk biar cepetan datang.





Hahaa... apaan nih? ternyata jadinya colorful banget ya..
Jadi ceritanya, kalau menurut aku  (mulai mendongeng), hidup itu adalah sebuah progress. Tanpa progress, kehidupan itu akan membosankan dan bukan hidup yang sesungguhnya. Kalau hidup gitu-gitu aja, monoton, bosen kaaaan? Tapi bukan berarti harus stressful juga. Hargai sekecil apapun bentuk progress. Misalnya hari ini berhasil ngerapiin lemari baju, it's great! Bagus banget, daripada sebelumnya berantakan. :-P Being positive is really really important. Harus bisa 'say no' pada diri sendiri dan orang lain untuk hal-hal negatif. Pikiran negatif, apalagi tindakan negatif bener-bener merusak, jadi harus dilawan dan dibuang jauh-jauh. So, always be positive.

Untuk mencapai progress, time management is the key. Tanpa disadari time is running out! Tampaknya saja sekarang kita masih muda. Rasanya boleh nyantai-nyantai (seperti yang sering saya lakukan). Oh jangaan, nanti rugiii.. Verily! Man is in loss.. Atur waktu sebaik mungkin, even dengan cara yang paling simpel. Bangun tidur, bayangkan dalam sebuah frame 'to do list', mau ngapain aja hari ini? Kemudian tulis, dan tick yang sudah dikerjain. Nggak semua dikerjain nggak apa-apa, yang penting ada planning&targetting udah bagus, hehee.. Planning yang paling sederhana adalah daily to do list. Kemudian skala waktu lebih besar bisa dibuat dalam time table mingguan, bulanan, 3 bulanan, 6 bulanan, tahunan dan seterusnya. Nyantai-nyantai atau sejenak berlibur membebaskan diri dari segala kepenatan sih boleh aja dan memang harus, tetapi di saat yang tepat. Jangan pernah biarkan hidup berjalan tanpa arah, you will be lost, your time will be gone.

Kalau target ternyata lepas nggak tercapai, gimana dong? Ya nggak apa-apa, point-nya adalah usaha kerasnya, bukan hasilnya kok. Do your best, then let God do the rest. Kalau jatuh bangkit lagi, ambil pelajaran dan hikmahnya, selanjutnya kita pasti akan lebih kuat dan lebih kuat lagi.

Trus yang namanya Happy, Success, Luck, Love, Healthy dan semacamnya, saya gambar di sekeliling Progress. Kenapa? Alasannya karena memang letaknya di situ, seperti itu gambaran yang ada di kepala saya tadi, hihi..

Huaaah, sekarang kepala rasanya udah berputar-putar... mata berkunang-kunang.. Sepertinya saya berhasil membuat diri sendiri kelelahan. Barusan saya juga udah mengisi buku agenda saya untuk  esok hari. Salah satunya adalah memmberdayakan kembali treadmill yang sudah nganggur selama seminggu lebih! Hahaa..

Demikian dongeng dari negeri antah berantah. Sekarang saatnya tidur... :-)  Guten Nacht, schlaf gut yaa..






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Antibiotik untuk Batuk Pilek

Sudah hampir seminggu nih batuk-batuk, hidung meler.. melernya pun udah kentel gitu.. Waks.. Trus gampang banget nular, dari satu anggota keluarga ke yang lain. Satu persatu kayak giliran gitu..

Nah kalau udah berhari-hari gejala nggak sembuh gini, jadi kurang nyaman juga kan.. Jadi rada kurang semangat beraktivitas.. Trus kepikiran deh sama antibiotik. Sebenernya perlu nggak sih???

Aku ambil dua dari beberapa systematic review yang kutemukan nih. Ohya, systematic review adalah evaluasi (critical assessment) dari sejumlah penelitian dengan tema yang sama, kemudian dengan metode tertentu digabungkan dan dianalisis menuju suatu kesimpulan.

Mengapa kita memakai hasil penelitian sebagai dasar pengambilan keputusan? Karena kedokteran adalah ilmu yang evidence based (berdasarkan bukti). Evidence Based Medicine. Basic ilmu kedokteran adalah bukti-bukti penelitian ilmiah. Jadi pengambilan keputusan termasuk terapi pun mestinya diambil berdasarkan bukti ilmiah.



Arrol B, Kennedy . Are antibiotics effective for acute purulent rhinitis? Systematic review and meta
analysis of placebo controlled randomised trials BMJ 2006;333:279. 



Jurnal pertama: menurut jurnal di atas, memang ada manfaat signifikan pada 5-8 hari pemberian antibiotik dibandingkan dengan plasebo. Relative Risk (RR) sebesar 1.18 (95%CI 1.05 - 1.33). Akan tetapi manfaat tersebut bisa dibilang kecil. Sedangkan number needed to treat (NNT) berkisar antara 7-15 (yang artinya 6 pasien tidak akan mendapatkan manfaat dari setiap satu orang yang mendapatkan manfaat antibiotik).

Di sisi lain, Relative Risk untuk efek samping antibiotik (nyeri perut, muntah, diare, ruam) sebesar 1.46 (95%CI 1.10 - 1.94). Masih lebih besar dibandingkan RR manfaatnya.. Sedangkan number needed to harm (NNH) berkisar antara 12-78. Perlu diperhatikan bahwa pada penelitian ini juga dimasukkan pasien-pasien penderita sinusitis (yang notabene lebih sensitif terhadap antibiotik). Sehingga  kemungkinan ini juga mempengaruhi hasil penelitian.




Arroll B, Kenealy T, Falloon K. Are antibiotics indicated as an initial treatment for patients with acute upper respiratory tract infections? A review. Journal of the New Zealand Medical Association, 17-October-2008, Vol 121 No 1284.


Jurnal kedua: hasil review  menunjukkan bahwa tidak ada manfaat signifikan antibiotik dibandingkan plasebo, dengan relative risk 0.89 (95%CI 0.77–1.04). Sedangkan untuk efek samping, 4 penelitian melaporkan relative risk sebesar  2.71 (95%CI 1.08–6.83).


Soooo..
Jangan buru-buru memakai antibiotik ya.. Mentang-mentang antibiotik bisa dibeli bebas di Indonesia tanpa resep dokter, bukan berarti bisa sembarangan memakainya. Nanti kita semua deh yang rugi. Kalau udah ada yang namanya antibiotic resistency, semua antibiotik sudah nggak mempan dipakai melawan kuman akibat pemakaian yang tidak rasional, trus kita pakai apa dong?

Oleh karena itu, menurut saya tidak berlebihan kalau seorang profesor mengatakan bahwa resistensi antibiotik itu sama halnya dengan global warming. Saya juga pernah membaca artikel dengan judul bahaya resistensi antibiotik itu sama bahayanya dengan ancaman teroris.:-)

Itu beralasan kok.. Jadi please, mari berhati-hati memakai antibiotik. Baik untuk pasien, dokter maupun semua pihak. Pemakaian antibiotik betul-betul harus r a s i o n a l. Saya sangat berharap mudah-mudahan penggunaan antibiotik di Indonesia diatur lebih rapi dan hati-hati lagi.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keukenhof: I am a Poor Woman?

Rasanya wajar ya kalau wanita suka bunga.. Kalau anda menyukai buga, mungkin mengunjungi Keukenhof adalah salah satu impian dan rencana Anda. Apakah benar? ;-) Jika ya, saya akan sedikit sharing tentang taman tulip nan indah ini :-P.

Saya bukan akan sharing secara detail tentang wisata ke Keukenhof, rute menuju kesana dan sebagainya. Anda bisa mencari informasi ini dengan mudah dari internet atau sumber lain. (Cuma sekedar informasi saja kalau kita bisa membuat rute secara fleksibel. Yang jelas kita harus menuju kota Lisse, kota dimana Keukenhof Park berada. Kalau pengalaman saya naik kereta, berangkat dari stasiun Leyden dan disana sudah ada bus khusus bertuliskan Keukenhof yang akan membawa kita ke taman itu. Saya janjian bertemu di Keukenhof dengan teman saya yang berangkat dari stasiun Schiphol).

Saat sedang berada di Keukenhof, tiba-tiba seorang wanita bule paruh baya menghampiri sambil berkata, "You are a poor woman?"

Melihat saya mengernyitkan dahi, wanita itu mengulangi perkataannya," You are a poor woman." 

Heran bercampur kesal, saya bertanya padanya,"Why?" 

Setelah mengobrol beberapa saat baru ngeh.. Dia adalah wanita Belanda yang tinggal dekat Keukenhof dan olalaaa.. ternyata dia mau bilang kalau saya ini tidak beruntung. Cuaca tahun ini terlalu dingin sehingga bunga-bunga tulip belum mekar meski sudah memasuki musim semi. Hahaaaa.. ^_°

Saya memang cukup kecewa karena tidak menjumpai bunga-bunga tulip yang mekar dalam kondisi sempurna hari itu. Dan memang benar apa yang dikatakan wanita itu, bahwa sebelum datang ke Keukenhof mestinya kita pastikan kapan waktu yang tepat untuk mengunjunginya. Inilah hal yang ingin saya garisbawahi dalam postingan kali ini. Mungkin tidak masalah kalau kita tinggal dekat dari Keukenhof. Seperti ibu tadi, yang pastinya punya tiket tahunan sehingga bisa mengunjungi Keukenhof kapanpun ia mau.  Tetapi kalau kita datang dari negara yang jauh, seperti Indonesia misalnya, tentunya berbeda.

Kapan tulip mekar sangat tergantung  pada kondisi cuaca. Tulip yang masih terlalu kuncup atau terlalu mekar (menurut saya pribadi) tidaklah terlalu cantik. Normalnya, waktu optimal adalah sekitar pertengahan April. Anda bisa memperkirakan jika tampaknya winter memanjang dan cuaca terlalu dingin, kemungkinan tulip akan terlambat mekar. Jika musim semi cukup hangat dibandingkan biasanya, mungkin tulip akan mekar lebih cepat. Untuk memastikannya, anda bisa mencari informasi dari teman yang tinggal di dekat Keukenhof maupun yang baru saja mengunjungi Keukenhof. Atau seperti yang disarankan ibu tadi, mencoba menelpon atau mengirim email yang alamatnya bisa anda dapatkan di website Keukenhof.

Di saat yang tepat, mestinya kita juga akan melihat hamparan sawah tulip yang berwarna-warni dan sangat cantik. Berikut adalah gambarnya yang saya ambil dari atas windmill. Masih kosong bukan? Hehehe..
Ohya, menurut informasi yang saya dapat, tidak lama setelah tulip-tulip mekar di sawah ini, akan segera dipotong sekitar akhir April-awal Mei.



Selanjutnya inilah beberapa gambar "baby tulip" yang saya ambil pada awal April 2013. :-D Cuaca tahun ini memang cukup dingin. Meski harusnya sudah memasuki spring, tetapi ternyata salju masih sering turun juga.

 



Foto-foto ini mungkin nanti bisa dibandingkan dengan foto tulip yang sudah lebih mekar saat cuaca sudah lebih hangat. Insya Allah saya berencana mengunjungi Keukenhof lagi pada akhir April atau awal Mei. :-) 

Di bawah ini adalah bunga-bunga tulip yang sudah mekar dengan sempurna.




Tulip-tulip ini berada di Orange Nassau, salah satu gedung di Taman Keukenhof yang berisi beraneka ragam bunga.  Tulip telah mekar (tentu saja karena cuaca dalam ruangan cukup hangat).;-P


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Suffering from Terrible Painful Hematuria! :-(

Nyeri luar biasa saat buang air kecil (disuria) dan melihat urin bercampur darah (hematuria) tentu bukan pengalaman menyenangkan. It must be something wrong!! Panik? Nggak juga sih..Tapi kalau ada yang pernah merasakan disuria, ya memang painful. :-(

Langsung deh terasa banget kalau health is the greatest of all possessions. Baruuu dikasih sakit dikit aja rasanya hidup udah nggak nyaman banget. Jadi mestinya kalau udah sehat, harus disyukuri dan dijaga baik-baik jangan sampai sakit. ;-)


Setelah 4 hari menahan sakit akhirnya saya menyerah (spekulasi banget ya, padahal hematuria disuria punya banyak differential diagnosis atau kemungkinan penyebabnya. Tapi mau gimana? Alasan saya karena sok sibuk, repot, banyak urusan, malas. Oww??! Akhirnya  karena tidak tahan lagi sakitnya, kemarin sore saya ke Rumah Sakit. Masuk melalui UGD St. Marien-Hospital, rumah sakit paling dekat dari rumah.

Langsung cek urin (tentu saja, hehe). Nggak  sabar lihat hasilnya.. Syukurlah nggak pake nunggu lama, hasil cek urin cepet jadinya. Taraaaaa..
Hasilnya:           Blood 4+
                        Sel darah putih 3+
                        Protein 1+


Just it? He'eh..Wah, ternyata standart aja, nggak canggih-canggih amat.. Lihat selembar kertas hasil pemeriksaan urin ditulis tangan, nggak computerized. Artinya, pemeriksaannya dipstick aja.


Sambil senyum lihat hasilnya, dokter memberikan resep antibiotik untukku. Urinary Track Infection? Yup! Jadi ingat kalau di Indonesia sih antibiotik bebas dibeli di apotek mana aja tanpa resep dokter. Rasanya lambang likaran hijau dan biru nggak ada bedanya. Kalau disini tentu nggak bisa begituuu.:-D

Sambil melirik kembali hasil lab urinku, ingat-ingat lagi deh interpretasinya. Kurang lebih seperti ini:

B   l   o   o    d
Secara teoritik, tidak boleh ada sel darah merah dalam urin. Hasil 1+ artinya small atau sedikit darah ditemukan, +2 moderate, +3 large. Hematuria bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, antara lain: kerusakan glomerular, tumor yang mengerosi saluran kencing, trauma pada ginjal, batu saluran kencing, infark renal,  nekrosis tubular akut, infeksi saluran kencing atas dan bawah, nefrotoksin. Tapi jangan lupa, sel darah merah bisa merupakan kontaminan dari darah menstruasi atau trauma yang disebabkan oleh kateterisasi. Sedikit sel darah merah memang bisa saja ditemukan pada orang sehat, tapi ya nggak +4 seperti saya dong.


S   e   l       D   a   r   a   h        P   u   t   i   h
Adanya sel darah putih dalam jumlah abnormal dalam urin disebut Pyuria. Biasanya ditemukan pada infeksi saluran kencing baik atas maupun bawah serta glomerulonefritis akut. Tapi jangan lupa (lagi, hehe), sel darah putih dari vagina dan infeksi serviks, meatus uretra eksterna laki-laki maupun perempuan juga dapat mengkontaminasi urin.


P   r   o   t   e   i   n
Normalnya, hanya sejumlah kecil protein plasma yang tersaring glomerulus direabsorbsi oleh tubulus renalis. Namun, sedikit protein plasma dan protein yang disekresikan oleh nefron  (Tamm-Horsfall protein) sah-sah saja ditemukan dalam urin. Asal ekskresinya tidak melebihi  150 mg/24 jam atau 10 mg/100 ml pada tiap spesimen urin. Jika lebih dari 150 mg/hari disebut proteinuria. Proteinuria > 3.5gm/24 jam adalah kodisi parah  dan biasanya dijumpai pada penyakit Nephrotic Syndrome.

Nah, seperti hasil pemeriksaan urin saya tadi, 1+ artinya  total protein yang disekresikan sekitar 200-500 mg/24 jam. 2+ artinya  0.5-1.5 gm/24 jam, 3+  artinya 2-5 gm/24 jam, dan 4+ artinya 7 gm/24 jam atau lebih. Hasil + atau trace positive result, artinya sekitar 10 mg/100 ml atau sekitar 150 mg/24 jam (batas atas normal), yang ini nggak apa-apa dan bisa diabaikan.


By the way, is that enough to diagnose UTI??? Trus langsung ngasih terapi antibiotik gitu? Menurut saya jelas tidak dong. Apalagi dokter nggak menggali dan memberikan informasi dengan cukup baik. Emang cukup tuh liat saya being female langsung jadi the only risk factor? Aww, yang namanya protes dan mengkritik memang püaling guampang deh ;-D. Tetapi inilah yang disebut terapi empirik. Saya memang menginginkan antibiotik dan saya setuju banget kok dengan dokter saya tadi.  Nggak perlu berbelit-belit, karena saya pengen segera pulang dan istirahat ;-). Jenis antibiotiknya pun persis yang saya mau. Dan kenyataannya hari ini memang saya merasa baikan. Disuria berkurang. Secepat itu? Sugesti? Hehee, mudah-mudahan everything will be fine, kita evaluasi lagi hari kedua minum obat besok :-)


Jangan lupa lagi ya.. Because Health is the greatest of all possessions and woman is in higher risk of Urinary Tract Infections --> 2liter water/day is a must. ;-)


Further reference?
Ini beberapa artikel random yang baru saja saya baca.
http://www.aafp.org/afp/2005/0315/p1153.html
http://www.ccjm.org/content/75/3/227.full






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

I am sooo Happy and Grateful to be a Mother

Just a little note for today,

I am so happy today to wait my kids going home from school. ❤ ❤ ❤ I've been really enjoying this situation lately. I am not busy mith my works, but i am now busy with my kids :-). Everything about them is under my own control. I see them everyday.. breakfast, lunch, dinner, until going to sleep. We are really so close. I talk with their teacher at  school, make sure everything is in order. Help them doing their homework and see they could do themselves is like making a masterpiece for me.

To every mother anywhere, always be grateful and be happy being a mother.  We are making future..
(。◕‿◕。)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS